SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU ADMINISTRASI PUBLIK DI INDONESIA
KELOMPOK 10
1. Ahmad Irfan Nugraha (1228010013)
2. Ajeng Nurhaliza (1228010017)
3. Andini Puspita Sari (1228010030)
4. Cindy Aulia (1228010045)
5. Etika Aulia Indriyani (1228010064)
Sebelum membahas tentang Sejarah Perkembangan Ilmu Administrasi Publik di Indonesia, perlu dipahami terlebih dahulu mengenai budaya atau kebudayaan yang ada di Indonesia yang nantinya akan dikaitkannya dengan sistem administrasi publik. Berbicara tentang budaya, ini menjadi sangat menarik untuk dibahas, karena kebudayaan disini sangat erat kaitannya dengan fenomena yang ada di masyarakat. Dimana kebudayaan tersebut mengkaji bermacam-macam pola perilaku masyarakat baik itu perorangan atau indivdu maupun kelompok yang orientasinya berkisar tentang kehidupan bernegara, penyelenggaraan administrasi negara, politik pemerintahan, hukum, adat istiadat dan norma kebiasaan.
A. TINJAUAN BUDAYA DARI SISTEM ADMINISTRASI PUBLIK DI INDONESIA
(Disusun oleh Etika Aulia Indriyani (1228010064))
Sebelum membahas lebih dalam lagi, perlu diketahui terlebih dahulu perihal pengertian dari budaya ataupun kebudayaan. Dalam Bahasa inggris kebudayaan disebut dengan “culture”, dalam Bahasa latin disebut “colere”, dan secara etimologi, di Indonesia kebudayaan berasal dari kata sansekerta yaitu “buddhayah” yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi (akal). Dan berikut merupakan definisi tentang kebudayaan menurut para ahli
1. Menurut Koentjaraningrat :
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat, yang dijadikan milik manusia dengan belajar.
2. Menurut Moh. Hatta :
Kebudayaan adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa
3. Menurut Zoetmulder :
Kebudayaan adalah perkembangan terpimpin oleh manusia budayawan dari kemungkinan-kemungkinan dan tenaga-tenaga alam terutama alam manusia, sehingga ia merupakan satu kesatuan harmonis.
Dari ketiga definisi di atas, dapat kami
simpulkan bahwa kebudayaan merupakan sebuah hasil karya ataupun hasil ciptaan
manusia dimana kemudian ini dikembangkan dan menjadi sebuah kepemilikan dari
manusia itu sendiri.
Budaya kedaerahan seperti dari budaya jawa, Minangkabau, sunda, bugis, manado, aceh, papua, batak, dan bali apabila dikaitkan dengan administrasi public ini masih ketinggalan dalam hal menggunakan hak dan memikul tanggung jawab di bidang politik pemerintahan dan penyelenggaraan administrasi public. Tapi bukan berarti kita akan menghilangkan kebudayaan itu, melainkan akan diseimbangkan dengan nilai-nilai yang ada di Pancasila khususnya sila ketiga dan keempat. (Syafiie, 2010)
1.
Budaya Jawa dan administrasi publik
Budaya
politik Kawula Gust sebenarnya bisa dipelajari melalui etika Jawa yang dikenal
tegas namun tangguh. Mereka telah lama dicetak dalam Inggil-krama, di mana
berbagai filosofi kehidupan terukir.
Dalam mempererat kebersamaan dan
kekeluargaan, mereka menggunakan
ungkapan “mangan ora mangan pook-e kumpul” (makan tidak makan asal kumpul).
Melakukan pekerjaan dengan teliti dan hati-hati, meskipun memakan waktu, mereka
menyebutnya "alon-alon asal kelakon" (pelan-pelan asal tercapai).
Dalam hal administrasi publik, suku Jawa relatif rendah hati dibandingkan dengan suku lainnya, yang tercermin dari cara mereka memakai keris. Sementara orang Bugis-Makassar, Minangkabau, Banjarmasin, dan Aceh menempatkan badik, keris, mandau, dan rencong masing-masing di dada dan perut (depan), orang Jawa membawa keris di punggung (belakang) agar tidak terlihat mengancam. Tapi mungkin ada yang menilai dengan cara ini dinilai kurang jantan.
2. Budaya Minangkabau dan administrasi publik
Budaya
politik para peserta sebenarnya bisa dipelajari di lapangan Minangkabau.
Mengapa orang Padangan terkenal dengan para penerjemah bahasanya yang gigih dan
pantang menyerah karena dalam gosipnya mereka sudah lama memiliki pendapat
tentang falsafah hidup, termasuk dalam administrasi publik.
Untuk
mempertahankan wibawa, wibawa dan persamaan mereka mengatakan "tagak samo
tinggi, duduak samo rengan" (berdiri begitu tinggi, duduk begitu rendah).
Dalam hubungan dan komunikasinya dengan administrasi publik, mereka berpedoman pada “duduk surang basampik-sampik, duduk basamo balang-wide” (kita duduk kokoh sendiri, bersama kita duduk lebar).
3.
Kebudayaan Sunda dan Administrasi Negara
Sejarah
nenek moyang orang Sunda berkisar pada sejarah Dayang Sumbi yang identik dengan
sejarah kompleks Odhipus pada zaman Yunani kuno. Keberbedaan Sunda lebih
ditekankan pada kecantikan sang ibu yang selalu merawat tubuhnya dengan baik.
Saat ini kebiasaan makan daun sefarin masih sangat umum di Jawa Barat, baik
disengaja maupun tidak, memiliki efek menguntungkan bagi perawatan kulit.
Solihin GP mantan Gubernur KDH TK I Jawa Barat mengatakan dalam pertemuan itu masyarakat Sunda menangis. Sementara itu, dalam wawancara televisinya, Rusadi Kantaprawira mengkhawatirkan tergerusnya budaya Sunda oleh budaya lain. Dalam penyelenggaraan pemerintahan baik ditingkat pemerintahan provinsi maupun kecamatan sampai ke desa-desa terjalin hubungan yang erat antara birokrat lokal dengan masyarakatnya, tidak jarang pada pesta-pesta rakyat kota kecil tersebut menampilkan tarian dan penyanyi ronggeng jaipong. untuk administrator publik.
4.
Kebudayaan dan Tata Pemerintahan Suku Bugis Makassar
Sebenarnya terdapat perbedaan antara suku Bugis
dan suku Makassar, namun persamaannya lebih besar daripada perbedaannya, oleh
karena itu mengelompokkannya menjadi satu kategori. Sebagai pelaut, orang Bugis
dan Makassar cukup berani dalam berinteraksi; tetapi ketika lebih sensitif, itu
lebih fatal. Karena mereka memiliki budaya Siri sebagai salep atas perasaan
terhina ketika martabat keberadaan mereka diinjak-injak. Misalnya, untuk
menjaga anak perawannya. Siri dapat mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain;
Anda tidak harus ahli dalam seni bela diri untuk melakukan ini, karena
tantangannya adalah duel dengan belati yang terhunus di sarung. Oleh karena itu
keterampilan silat berbahaya untuk faktor risiko. Dalam bidang administrasi
publik, suku Bugis-Makassar merupakan orang yang tepat menduduki jabatan
legislator karena ketegasan dan ketegasannya.
5. Kebudayaan Manado dan Administrasi Publik
Kawanua umumnya bisa dibilang paling moderat dibanding suku Indonesia lainnya. Hal ini membuat masyarakat Manado lebih demokratis dibanding suku lainnya. Kawanua artinya kerabat, pembantu atau komunitas dari masyarakat Manado itu sendiri Dalam lingkup ini keberadaan perempuan sudah lama dihormati; Karena hak tersebut, perempuan dipandang blak-blakan, bahkan sedikit genit, di mata sebagian masyarakat Indonesia lainnya.
Legenda kuno Manado menyebutkan bahwa wilayah ini diperintah oleh mayoritas perempuan; Hal ini cenderung membuat perempuan di bidang ini terampil dalam persaingan hidup dan anggota tubuh. Dalam etika administrasi publik, bidang ini tidak dapat langsung dituduh, tetapi harus dikaitkan dengan keberadaan cinta itu sendiri, karena mereka juga memiliki rasa harga diri tertentu dan rentan terhadap melankolis estetika di depan berbagai hal.
6. Budaya Aceh dan Administrasi Publik
Masyarakat Aceh lebih suka dicap sebagai penjahat daripada dikutuk sebagai murtad dari agama Islam yang berakar pada budaya Aceh. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan agama dalam penyelenggaraan administrasi publik. Masyarakat Aceh sangat hadir dalam kehidupannya dan memiliki jiwa yang peka. Jika menyangkut keinginan hati orang, ungkapan "di teuron dari rumoh neugisa ngonblood" (artinya: Ketika Anda datang dari rumah, jangan berharap untuk mengembalikan nama, tetapi Anda tetap harus mengembalikan darahnya). kemudian serahkan kepada Allah SWT).
7. Budaya Papua dan administrasi publik
Hubungan (komunitas) di daratan Papua sangat
sulit karena beratnya. medan yang bisa dilalui. Oleh karena itu, mereka sangat
berbeda dalam pengembangan budaya daerah. Hal ini terlihat misalnya pada
banyaknya jumlah bahasa daerah di suatu daerah, karena setiap daerah, setiap
tempat, suku, tempat, dsb. mengembangkan bahasa asli mereka sendiri, yang sulit
dipengaruhi oleh daerah lain. hubungan longgar. Namun budaya yang hampir sama
dengan kebanyakan orang Papua ini adalah keras dan membanggakan. Itu sebabnya
orang Papua tidak membungkuk dengan jelas. Dampak positifnya, orang Papua yang
sedang menjabat dengan mudah mempertahankan kewibawaan dan kharismanya sendiri bahkan
kurang mau mengungkapkan rasa malunya. Para calon penyelenggara pelayanan
administrasi publik, para pejabat administrasi publik, tidak boleh membuat
janji-janji besar yang sulit dipenuhi. Munculnya berbagai gerakan separatis di
wilayah ini bukan hanya karena tujuan politik, tetapi juga karena rasa tidak
digunakannya pemerintah, yang menimbulkan rasa bangga akan kemampuan seseorang
yang sebenarnya dan keinginan serta kebutuhan untuk membuktikannya. Oleh karena
itu, gerakan-gerakan tersebut tidak pernah dilakukan untuk bersatu di pulau
yang luas ini.
8. Kebudayaan Batak dan Administrasi Negara
Orang
Batak dikenal dengan kehidupan yang menantang dan lebih eksistensial dalam
kehidupan ini, oleh karena itu dikenal dengan Batak Tembak Langsung (BTL) di
kalangan anak muda.
Dalam menyampaikan pendapat, orang Batak cenderung spontan tanpa langsung, sehingga demokrasi akan berkembang pesat dalam pembangunan politik mengikuti putra-putri Batak, khususnya dalam penyelenggaraan pemerintahan di negeri yang satu ini.
9. Budaya Bali dan Administrasi Publik
Unsur-unsur
kehidupan dan kebudayaan masyarakat di Bali berkembang sejalan dengan
perkembangan unsur-unsur kebudayaan agama Hindu Jawa, terutama seiring
meluasnya pengaruh kekuatan Singosari dan Majapahit. Hal ini tercermin dalam
tradisi seperti adanya tokoh Pedanda, nama penunjuk kasta, upacara kremasi,
berbagai tarian, dan arsitektur berstruktur Hindu. Ini juga mempengaruhi
administrasi publik. Namun kemudian, setelah kemerdekaan Republik Indonesia,
budaya Bali berkembang menjadi tradisi modern. Ditambah dengan banyaknya
wisatawan mancanegara maupun domestik yang datang ke Bali, sehingga pendidikan
dan budaya serta pengaruh modern telah membawa banyak perubahan terutama pada
sistem kasta. Namun yang terpenting dalam kehidupan sosial masyarakat Bali
adalah prinsip Gotong-Royong, baik sebagai nilai budaya maupun sebagai sistem
perilaku. Gotong-royong telah menjadi dasar berbagai bentuk kegiatan sosial di
Bali, sehingga nampaknya sangat menggerakkan kekeluargaan dan komunikasi
masyarakat Bali.
Hubungan administrasi publik dengan keberadaan daerah ini adalah lahirnya sistem kekerabatan, yang menentukan perencanaan, pelaksanaan, organisasi dan pengawasan kerja.
B. SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU ADMINISTRASI PUBLIK DI
INDONESIA
SEJARAH PERKEMBANGAN ADMINISTRASI PUBLIK
(Disusun oleh Andini Puspitasari (1228010030))
Sejarah perkembangan administrasi publik pada dasarnya dapat ditelusuri
melalui berbagai literatur yang membahas tentang Administrasi publik. Literatur
yang membahas sejarah administrasi publik yaitu karya pertama Woodrow Wilson
(1886) yang berjudul "the study of administration" merupakan
tonggak perkembangan awal pemikiran administrasi publik. Kemudian dilanjutkan
oleh E. N. Gladen berjudul "A History of public administration"
yang terbit tahun 1972 dalam Keban (2004:25). Literatur tersebut membahas
tentang praktik administrasi dan peranan pegawai tata usaha, manajer tingkat
menengah pada jaman kuno khususnya di Mesir dan dunia Timur. Pada waktu itu
birokrasi sudah melakukan korupsi dan birokrasi yang berbelit-belit.
Literatur yang lain ditulis oleh L. D. White dalam Keban (2004:25), pada
tahun (1948), (1951), (1954), dan (1958). Dalam terbitan pertama ini
menjelaskan pengalaman bahwa administrasi Amerika Serikat selama 1789-1801,
terbitan kedua tentang pengalaman Amerika Serikat selama 1801-1829, terbitan
yang membahas tentang pengalaman negara yang sama selama 1829-1861, dan yang
terakhir pengalaman negara tersebut selama periode 1861-1901. Dalam tulisan
White menjelaskan tentang penciptaan dan kedewasaan otoritas eksekutif dan
departemen lewat pemerintahan Hamilton yang dikenal sebagai arsitek
pemerintahan baru waktu itu tanpa bantuan menggunakan pengalaman sektor swasta
sebagaimana disarankan setelah tahun 1901.
Pernyataan Oliver Wendell Holmes Jr. yang menyatakan: jika ingin
mengerti atau mencoba menentukan apa yang akan terjadi hari esok maka perlu
melihat ke belakang, penting untuk setiap mahasiswa yang mempelajari
administrasi (Stephen P. Robbins, 1980). Ungkapan ini mengandung maksud, jika
ingin memahami pemikiran administrasi modern atau mutakhir, harus melihat latar
belakang yang membawa kepada keadaan sekarang.
Demikianlah, dengan melalui analisis sejarah dapat dilacak dan diketahui
kira-kira tahun 1300 SM, bangsa Mesir telah mengenal Administrasi. Max Webber,
seorang sosiolog berkebangsaan Jerman yang terkemuka pada zamannya, meyakini
Mesir sebagai satu-satunya Negara yang paling tua yang memiliki administrasi
birokratik. Demikian juga di Tiongkok kuno, dapat diketahui tentang konstitusi
Chow yang dipengaruhi oleh ajaran Confucius dalam “Administrasi Pemerintahan”.
Dari Yunani (430 SM) dengan susunan kepengurusan Negara yang demokratis, Romawi
dengan “De Officiis dan “De Legibus”nya Marcus Tullius
Cicero; dan abad 17 di Prusia, Austria, Jerman, dan Prancis, dengan Kameralis,
yang mengembangkan ilmu Administrasi Negara, misalnya system pembukuan dalam
hal Administrasi Keuangan Negara, Merkanitilis (sentralisasi ekonomi dan
politik) dan kaum Fisiokrat yang berpengaruh selama kurun waktu 1550-1700-an.
Kemudian Siagian (2004:18), menjelaskan perkembangan Administrasi
ditinjau dari segi penahapan sejak lahirnya hingga saat ini telah melewati
empat tahap yaitu sebagai berikut :
a. Tahap Survival (1886-1930). Pada tahap survival dapat dikatakan sebagai masa lahirnya ilmu
administrasi karena pada masa itulah gerakan manajemen ilmiah dimulai
Fredericks Wilson Taylor dalam jangka waktu yang cukup panjang inilah para ahli
yang menspesialisasikan dirinya dalam bidang administrasi dan manajemen.
Memperjuangkan untuk diakuinya administrasi dan manajemen sebagai salah
satu cabang ilmu pengetahuan.
b. Tahap Konsolidasi dan Penyempurnaan (1930-1945). Tahap ini disebut konsolidasi dan penyempurnaan karena dalam
jangka waktu inilah prinsip-prinsip, rumus-rumus, dalil-dalil ilmu administrasi
dan manajemen lebih disempurnakan sehingga kebenarannya tidak dapat dibantah
lagi. Dalam jangka waktu ini pula gelar-gelar kesarjanaan dalam ilmu
administrasi negara dan niaga mulai banyak diberikan oleh berbagai perguruan
tinggi di Indonesia.
c.
Tahap Human Ralations (1945-1959). Tahap ini disebut tahap human relation karena setelah terciptanya
prinsip-prinsip, rumus-rumus, dan dalil-dalil yang sudah teruji kebenarannya,
perhatian para informal apa yang perlu diciptakan, dibina dan dikembangkan
oleh setiap manusia pada semua tingkatan organisasi demi
terlaksananya kegiatan yang harus dilaksanakan dalam suasana yang intim dan
harmonis.
d. Tahap Behaviouralisme (1959 hingga sekarang). Pengertian semakin
pentingnya peranan manusia dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditentukan,
mengakibatkan para ahli dan sarjana dan memusatkan penyelidikannya pada masalah
manusia. Akan tetapi, hakekatnya pada tahap terakhir ini sorotan perhatian
bukan lagi manusianya sendiri sebagai mahkluk hidup yang mempunyai martabat,
tujuan, cita-cita, serta keinginan yang khas, tetapi sudah meningkat pada
penyelidikan tentang perilaku manusia dalam kehidupan berorganisasi dan apa alasan
mengapa manusia itu berperilaku demikian.
Dugaan Siagian, adalah setelah tahap behaviouralisme ini berakhir ilmu
administrasi dan manajemen akan memasuki tahap matematika. Dugaan ini
didasarkan kepada observasi yang diteliti serta gejala yang telah terlihat
sebagai akibat dari ditemukannya alat - alat modern yang sekarangpun sudah banyak dipergunakan oleh
organisasi modern dalam berbagai aspek kegiatannya seperti komputer dalam
pengolahan data (Automatic data Processing atau elektronik data processing). Sondang berpendapat bahwa di masa-masa yang akan datang akan semakin banyak
tugas organisasi yang akan diambil alih oleh mesin-mesin terutama
kegiatan-kegiatan yang bersifat rutin dan mekanistik. Meskipun demikian perlu
ditekankan bahwa peranan manusia dalam proses administrasi dan manajemen
menurut pendapat Sondang, tidak akan berkurang. Hanya sifat yang mungkin akan
berubah. Fungsi-fungsi seperti pengambilan keputusan dan banyak kegiatan
lainnya masih dan selamanya hanya akan dapat dijalankan oleh manusia. (Pasolong, 2019).
2. PERKEMBANGAN ILMU ADMINISTRASI PUBLIK DI INDONESIA PERIODE SEBELUM TAHUN 1945
(Disusun oleh Andini Puspitasari (1228010030))
Perkembangan administrasi publik di Indonesia dapat dilihat dari tulisan
Haryono Sudriamunawar (2002:5-8). Beliau mengklasifikasikan perkembangan
administrasi publik ke dalam tiga masa yaitu:
a.
Masa Penjajahan Belanda
Selama tiga setengah abad Indonesia di jajah Belanda, selama itu pula
administrasi hanya dikenal sebagai ilmu pengetahuan. Pada masa ini administrasi
diartikan secara sempit yaitu sebagai pekerjaan yang berhubungan dengan
ketatausahaan dalam bahasa Belanda dikenal istilah "Administrasi".
Oleh karena itu, administrasi secara nyata berupa pengarsipan, ekspedisi,
pengetikan, surat menyurat, registrasi dan herregistrasi yang kesemuanya
bersifat tulis menulis yang dalam bahasa Inggeris dikenal dengan istilah "Clerical
Work". Masa penjajahan Belanda yang tidak setenang abad
sekarang,nampaknya cukup mempengaruhi bahasa Indonesia mengenai pengetahuan
administrasi secara sempit. Sampai sekarang banyak bangsa Indonesia yang belum
memahami apa hakekat administrasi secara luas. Hal ini nampak jelas dalam
kegiatan sehari-hari terutama yang berhubungan dengan birokrat, umpamanya untuk
mengambil KTP dimohon membayar uang administrasi terlebih dahulu. Pada masa ini
administrasi negara sebagai suatu disiplin ilmu belum begitu dikenal.
b.
Masa Penjajahan Jepang
Dalam masa penjajahan Jepang yang berlangsung cukup singkat tidak begitu
nampak berpengaruh terhadap budaya bangsa atau pemerintahan. Begitu juga
ilmu administrasi penerapan secara optimal belum terpikirkan. Meskipun demikian
ada beberapa hal yang perlu dicatat pada masa itu berupa dibentuknya
rukun-rukun kampung. Rukun kampung "Asatjo" dibagi menjadi
beberapa rukun tetangga "Kumitjo". Hal seperti ini membekas
sampai sekarang menjadi istilah RW dan RT dalam sistem administrasi Negara
Indonesia. Selain hal tersebut di atas pada masa penjajahan Jepang dalam
sistem pemerintahan di mulai dengan memperkenalkan organisasi pertahanan Sipil
atau dalam bahasa Jepang disebut "Sie Nen Dan". Begitu juga
kursus-kursus ketataprajaan mulai dirintis meskipun dengan persyaratan peserta
kursus sangat ketat dan sepenuhnya untuk kepentingan penjajahan semata-mata.
c.
Masa Kemerdekaan
Pada masa kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 ditandai dengan
dibukanya beberapa Perguruan Tinggi di Jakarta dan Yogyakarta. Pada masa itu
ilmu administrasi ataupun administrasi negara belum mendapat tempat yang baik
sebagai disiplin ilmu. Dengan demikian ilmu administrasi dan administrasi
negara masih. merupakan bagian dari mata kuliah yang dianggap pokok pada waktu
itu antara lain ilmu pemerintahan dan ilmu hukum.
3. PERKEMBANGAN ILMU ADMINISTRASI PUBLIK DI INDONESI PERIODE SETELAH TAHUN 1945
Perkembangan Administrasi Publik Indonesia Tahun 1945 – 1950
(Disusun oleh Ajeng Nurhaliza (1228010017))
Pada periode 1945-1950, bangsa Indonesia masih berada dalam
kondisi berjuang untuk memenangkan perang dan mempertahankan
kemerdekaan demi persatuan bangsa dan negara proklamasi 17 Agustus 1945.
Sehingga pada masa ini Sistem Administrasi Publik Republik Indonesia belum
berkembang dan pelaksanaan demokrasi belum berjalan dengan baik yang disebabkan
adanya revolusi fisik.
Diilihat dari Pasal 4 Aturan Peralihan UUD Negara RI Tahun 1945, pada awal kemerdekaan masih terjadinya sentralisai kekuasaan. Pasal ini berbunyi sebelum MPR, DPR, dan DPA dibentuk menurut UUD ini segala kekuasaan dijalankan oleh presiden dengan dibantu oleh KNIP.
Setelah kemerdekaan Indonesia yang dimulai tanggal 17 Agustus 1945, semua kegiatan sistem administrasi negara, bidang usaha, pengurusan, dan penyelenggaraan administrasi publik dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri. Hal ini menjadi kesempatan yang terbuka luas bagi bangsa Indonesia untuk mengisi kekosongan jabatan-jabatan negara. Namun, Penyelenggaraan administrasi publik belum berjalan sebagaimana mestinya dan tidak sesuai harapan. Penyebabnya karena masih dalam situasi perang dengan Belanda yang ingin kembali ke Indonesia.
Menurut laporan Litchfield dan Rankin J. Wayong (dalam Bintoro, 1965: 21) penyebab lainnya antara lain :
1)
Situasi physical revolution yang
pada waktu itu menandai masa tersebut;
2) Masih kurangnya administrator dari
bangsa Indonesia yang memiliki pendidikan administrasi publik yang memadai;
3) Kurangnya pengalaman dalam
penyelenggaraan administrasi publik sehingga pengawasan
juga sangat sold dilakukan;
4) Kurangnya pengalaman untuk
mengembangkan pandangan administratif yang kreatif serta lebih luas.
Jadi para administrator negara tidak memiliki kesempatan untuk
mendapat pendidikan bidang ilmu administrasi publik berpengaruh
terhadap perkembangan ilmu administrasi publik sendiri. Di satu pihak terdapat
kebutuhan akan adanya suatu ilmu yang dapat "cope with the problems of
actual administration" dan di lain pihak belum adanya kesempatan yang baik
untuk mengembangkan ilmu administrasi publik itu sendiri. Namun dalam
pelaksanaan administrasi publik (public administration practices) dilakukan perbaikan-perbaikan.
Oleh karena itu, orientasi terhadap ilmu-ilmu yang terkait dengan ilmu
administrasi publik antara lain ilmu hukum administrasi negara, ilmu
pemerintahan, ilmu politik, dan sebagainya dengan tujuan mempertinggi kemampuan
administrasi publik seperti terjadi sebelum tahun 1945 tetap dilanjutkan dengan
penyesuaian-penyesuaian baru terhadap kondisi-kondisi maupun kebutuhan
Indonesia.
Sehingga pada waktu itu diperlukan upaya memperkenalkan pendidikan
administrasi negara kepada para administrator yang sangat kurang akan
pengalaman tersebut. Lembaga pendidikan yang pertama mengembangkan ilmu
pemerintahan adalah Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Pada Fakultas Hukum
dan Sosial politik saat itu dalam kurikulumnya dikembangkan mata kuliah Ilmu Pemerintahan. Kecuali
itu terdapat pula Bestuurs School di Makassar, Sekolah Tinggi
Pamong Praja di Malang, dan Kursus Cepat Pamong Praja di Yogyakarta (Bintoro,
1965: 21).
Dilihat dari segi kelembagaan, setelah Indonesia merdeka semua
lembaga-lembaga di zaman Hindia Belanda menjadi sumber inspirasi pembentukan
kelembagaan negara. Lembaga-lembaga tersebut idenya diadopsi dengan mengubah
namanya ke dalam sistem administrasi negara yang hendak dibangun berdasarkan
ketentuan UUD Negara RI 1945. Berdasarkan UUD 1945 ini, ditentukan adanya
presiden dan wakil presiden, MPR, DPR, MA, BPK, dan DPA. Satu-satunya lembaga yang sama sekali baru dalam arti tidak ada
padanannya dengan lembaga-lembaga yang sudah ada di masa Hindia Belanda adalah
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Oleh karena itu, beberapa sarjana hukum
Indonesia menganggap adanya lembaga MPR sebagai ciri khas Sistem Administrasi
Negara Kesatuan Republik Indonesia (SANKRI). Kedudukan MPR sangat sentral dan
berada di puncak piramida struktur kelembagaan negara sehingga lazim disebut
sebagai lembaga tertinggi negara (the Supreme People's Assembly) yang tampaknya
akhir-akhir ini akan dihidupkan amandemen kelima UUD Negara RI Tahun 1945.
Perkembangan ilmu administrasi publik pada periode 1945-1950
orientasinya lebih pada masalah politik yakni bagaimana berjuang mempertahankan
dan pengakuan Indonesia sebagai suatu negara merdeka. (Basuki, 2018)
Perkembangan Administrasi Publik Indonesia
Tahun 1951-1955
(Disusun oleh Ajeng Nurhaliza (1228010017))
Pada periode 1951 – 1955 dapat disebut sebagai peletakan dasar-dasar
pertama bagi perkembangan ilmu administrasi publik di Indonesia, karena
dirasakannya kebutuhan akan suatu ilmu administrasi publik untuk tujuan
perbaikan-perbaikan bidang pelaksanaan administrasi publik di Indonesia sebagai
sebuah negara baru merdeka.
Dalam periode ini juga dikemukakan semakin derasnya kekuatan politik
mengincar terhadap lembaga birokrasi pemerintah. Pada tahun ini UUD RI
Sementara 1950 diberlakukan. Dalam DUD RIS dianut sistem demokrasi parlementer,
bahwa pernerintah bertangung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Dampak dari
Maklumat Wakil Presiden 3 November 1945, Indonesia juga menganut sistem
multipartai yang berarti bebas mendirikan partai politik sesuai dengan
aspirasinya. Kemudian, terselenggara pemilihan umum pertama yang dikenal sangat
demokratis. Semua partai politik yang memenangkan suara berkeinginan untuk
menguasai beberapa kementerian dan terjadi kabinet pemerintah dibubarkan hanya
karena pembagian kementerian yang tidak sesuai dengan tuntutan partai-partai
politik. Selain itu, militer juga sudah mulai ikut memainkan peran dalam
percaturan politik. Partisipasinya dimulai ketika militer menolak penjanjian
Konferensi Meja Bundar (KMB) yang merupakan hasil perjuangan untuk menegakkan
kemerdekaan oleh politisi sipil melalui jalan diplomasi. Peran militer akan
diwujudkan dalam konsep dwifungsi yang menekankan bahwa selain berperan di
bidang keamanan dan pertahanan, militer juga berperan di bidang sosial dan
politik.
Jika dilihat dari perspektif perkembangan ilmu administrasi publik,
peranan negara yang semakin besar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara turut mendorong perkembangan ilmu administrasi di Indonesia. hal tersebut menjadi pokok
pemikiran-pemikiran ke arah perbaikan efisiensi dan efektivitas tugas-tugas serta tanggung jawab kementerian-kementerian pada waktu itu, dan mulai adanya
usaha-usaha ke arah suatu rencana pembangunan ekonomi dan sosial.
Disamping itu, terdapat perubahan orientasi dari sifat legalistik continental ke arah sifat praktis dan pragmatis dari negara Amerika Serikat
dalam meninjau proses administrasi publik. Aspek administrasi publik tidak lagi
terbatas pada pengetahuan hukum saja. Unsur-unsur dan prinsip-prinsip ilmu
administrasi publik sendiri yang sesuai dengan perumusan-perumusan yang telah
diberikan, memberikan pengaruhnya terhadap ilmu hukum khususnya ilmu hukum
administrasi negara. Menurut pendapat A. M. Donner (Nederl, bestuursrecht,
1953) tentang pengertian bestuur yang oleh Utrecht dapat disebut sebagai
pengertian "bestuur yang diperluas" oleh karena dalam pengertian itu
"tidak hanya terdapat pembahasan ilmiah tentang perbuatan hukum (rechtshandeling)
yang dilakukan administrasi tetapi juga pembahasan ilmiah tentang susunan:
tugas, dan kompetensi administrasi publik. Menurut Utrecht, pendekatan Donner
terse', sudah mendekati pendekatan Public Administration (Catatan buku
podie "Bestturkunde", cetakan Kedua, 1953). Hal ini juga
dapat diikuti dalam perkembangan dari buku Pengantar Hukum Administrasi Negara
oleh Utrecht dari cetakan pertama sampai dengan terakhir.
Dalam kondisi tersebut adanya "Panitia Negara untuk Menyelidiki
Organisasi Kementerian. kementerian" dengan Ketua Panitia A. K.
Pringgodigdo berdasar Keputusan Presiden Tahun 1952 dan menyampaikan laporan
pada tanggal 26 April 1954. Tugas dari panitia yaitu :
1) Melakukan penyelidikan (peneliti.) apakah
susunan kementerian pada umumnya dan pembagian kementerian dalam
bagian-bagiannya dan susunan organisasi vertikalnya sudah cukup efisien.
2) Mengajukan usul-usul yang konkret
kepada pemerintah untuk memperbaiki organisasi tersebut di atas, agar tercapai
suatu organisasi pemerintah yang efisien.
Dari aktivitas itu, sudah mulai muncul cara peninjauan terhadap
administrasi publik yang memberi perhatian pada aspek struktural, procedural,
dan manajemennya. Upaya ini dilakukan dengan tujuan memperbaiki bidang
penyelenggaraan administrasi publik di Indonesia. Laporannya menjadi suatu
studi tentang pelaksanaan administrasi publik di Indonesia yang sangat berharga
dan di masa selanjutnya sering digunakan sebagai referensi.
Biro Perancang Negara yang dipimpin oleh H. Juanda dan Ali Budiarjo
melakukan pendekatan keilmuan terhadap administrasi publik dengan memberikan
perhatian besar pada perkembangan ilmu administrasi publik dan penerapan
prinsipnya sebagai perbaikan penyelenggaraan administrasi publik. Kemudian, dibentuk
seorang Public Administration. Advisor yaitu bernama T. R. Smith yang
menyusun suatu memorandum tentang Public Administration "'Mining
pada November 1953.
Pendorong terbesar bagi perkembangan ilmu administrasi publik adalah P. J. M Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta. Pada awal tahun 1954 pemerintah mendatangkan perutusan dari Amerika Serikat untuk mengadakan penelitian mengenai administrasi kepegawaian, yang diketuai oleh Edward H. Litchfield dengan dibantu oleh Alan .C Rankin. Setelah mengadakan penelitian keseluruh Indonesia, akhirnya merumuskan suatu saran kepada pemerintah Indonesia yang diberi judul “Training Administration on Indonesia”, banyak saran yang diberikan, salah satunya adalah perlunya didirikan lembaga pendidikan administrasi yang nantinya dapat dipergunakan mendidik pegawai-pegawai serta para administrator.
Kedua ahli ini menyampailcan laporan pada bulan Mei 1954 kepada Soepomo dengan judul laporan "Raining for Administration in Indonesia". Isi laporannya yaitu mengenai informasi dan penjelasan tentang pengertian administrasi, cara peninjauan tentang proses administrasi yang sesuai dengan ilmu administrasi baru. Disamping itu, diberikan pula usul-usul konkrit dalam bidang pendidikan tenaga-tenaga administrasi di Indonesia termasuk masalah penerjemahan, kepustakaan, pembentukan suatu fakultas administrasi, bantuan-bantuan luar negeri, "executive development programs", suatu lembaga untuk "administrative sciences" dan lain sebagainya.
Dengan adanya laporan itu, dibentuklah panitia guna membahas tindak lanjut dari laporan Litfield dan Rankin yang terdiri Moh. Hatta sebagai Ketua dan anggota antara lain H. Juanda, M. Hutasoit, dan Sumarman. Beberapa rekomendasi yang disampaikan pada Rapat Panitia pada bulan Juli 1954 ini adalah mempersatukan mata kuliah administrasi publik dan administrasi bisnis yang bertujuan agar dapat diusahakan suatu fakultas tersendiri. Namun, karena terbentur masalah anggaran, hal tersebut belum dapat direalisir.
Dari segi kelembagaan perguruan tinggi, dapat dikemukakan suatu akademi
yang berdiri pada tahun 1953 yaitu Akademi Perniagaan Indonesia adalah suatu
sekolah dengan orientasi administrasi dalam hal ini administrasi bisnis. Lembaga pendidikan ini mengadakan kerja sama
dengan Kementerian Dalam Negeri untuk mendidik calon administrator pemerintahan
dalam regret. Sebagai catatan seorang tenaga ahli asing yang pernah membantu
dalam pengajaran “public administration” adalah Garth N. Jones.
Dalam perbaikan penyelenggaraan administrasi publik mulai diupayakan penggunaan prinsip-prinsip administrasi publik. seperti usaha ke arah perubahan Undang-Undang Perbendaharaan yang telah dilakukan oleh suatu Panitia Negara dengan memerhatikan pendapat ahli W. Karakachev dan demikian pula kesirnpulan-kesimpulan dari Panok. Dalam bidang kepegawaian negara, prinsip seperti job description, job specification, dan job evaluation telah dikemukakan. hal tersebut tujuannya untuk mendapatkan standar “equality of service” yang lebih baik. (Basuki, 2018).
Perkembangan Administrasi Publik Indonesia Tahun 1956-1960
(Disusun oleh Cindy Aulia (1228010045))
Ilmu Administrasi Publik pada periode ini dapat dikatakan mengalami
kemajuan setelah apa yang menjadi dasar-dasarnya sudah dilakukan pada periode
sebelumnya. Dan periode ini juga di sebut sebagai periode konsolidasi dan
institusionalisasi. Serta pada periode ini juga, usaha-usaha yang pernah
dilakukan di periode sebelumnya mendapatkan hasil dalam bentuk yang lebih
nyata. (Johanes, 2018).
Arah perhatian dari ilmu dan kegiatan penelitian bidang administrasi publik ditujukan pada bidang-bidang seperti pengertian dan prinsip-prinsip umum administrasi publik, administrasi dalam bidang ekonomi dan pembangunan, administrasi pemerintah daerah, administrasi kepegawaian negara, organisasi dan metode yang terkait dengan usaha meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja organisasi pemerintah.
Upaya tersebut sebagai perwujudan yang nyata dari
kebutuhan dalam bidang administrasi publik di Indonesia sebagai akibat dari :
1)
Usaha untuk
mengintrodusir ilmu baru (administrasi publik), yang belum banyak mendapat
apresiasi dari masyarakat;
2) Kenyataan juga
menunjukkan peran negara yang besar dan luas dalam kehidupan ekonomi dan
pembangunan Indonesia. Seperti adanya Rencana Pembangunan Lima Tahun, Sosial
Ekonomi dapat diselesaikan;
3) Banyaknya pulau di
Indonesia (kurang lebih 17.400 pulau) ditambah dengan keadaan geografis yang
menyulitkan hubungan dan komunikasi, menimbulkan kebutuhan suatu sistem
administrasi daerah yang memungkinkan pengambilan keputusan serta tindakan
pelaksanann yang efisien tanpa menggangu atau mengurangi dasar NKRI.
4) Terdapat perbedaan di
tingkat sosial dan ekonomi disetiap bagian di Indonesia yang dimana ini menjadi
tantangan bagi para administrator dan cara penyelesaiannya tergantung pada
kemampuan mereka untyk memenuhi aspirasi masyarakat di setiap tempatnya, tetapi
tetap dalam bingkai NKRI.
5) Masalah terkait
kondisi dan semangat kerja para pegawai negeri sipil menjadi hal yang penting
6) Pertumbuhan penduduk
yang tumbuh secara cepat pasca kemerdekaan menimbulkan berbagai masalah dalam
hal pendidikan, kesehatan, dan administrasi perkotaan. Hal ini harus menjadi
perhatian serius.
Selain hal-hal yang diatas, peningkatan harapan dan
permintaan dari masyarakat bangsa Indonesia menjadi sebuah karakteristik bangsa
yang baru merdeka dan menjadi tantangan terbesar terhadap kemampuan administrasi
publik. (Basuki, 2018).
Di awal periode ini terdapat pelopor penulisan
karya ilmiah dalam bidang administrasi publik. Karya pertama adalah pidato dari
Prayudi Atmosoedirjo pada 20 september 1956 mengenai “Public Administration”
saat acara peresmian pembukaan Fakultas Tata-Praja Universitas Krisnadwipayana
Jakarta. Karya kedua adalah dari pidato Tjia Kok Tjiang mengenai “Arti dan
Bidang Ilmu Pemerintahan” pada 17 desember 1957 saat acara Peringatan Dies
Natalis pertama Fakultas Public Administration Universitas 17
Agustus di Makassar. Kemudian terhadap kedua pidato ilmiah ini dilakukan sebuah
ulasan dalam bentuk kritik ilmiah oleh E. Utrecht yang berjudul “Beberapa
Catatan-catatan Tentang Public Administration” dan dimuat dalam
Majalah Padjadjaran 1958.
Selanjutnya ICA (Indiana Contracting Advisor)
menaruh perhatiannya terhadap bidang pelatihan dan perbaikan pelaksanaan
administrasi publik di Indonesia. Pada tahun 1956, Joseph L. Sutton yang
merupakan penasihat pada Lembaga Administrasi Negara Universitas Thammasat
Bangkok datang ke Indonesia dan mengadakan fact finding survey untuk
rencana mengintegrasikan bantuan teknik di bidang administrasi publik di
Indonesia.
Dalam menaruh perhatiannya terhadap bidang
pelatihan dan perbaikan pelaksanaan administrasi public di Indonesia, ICA
mengeluarkan program Public Administration Division dengan dua
orang pejabat yaitu Harry W. Marsh dan John A. Ulinski yang disebut memiliki
peranan yang cukup besar di bidang ini. Program ini dilakukan dalam dua bidang
yaitu pengiriman kepustakaan tentang administrasi publik ke Indonesia dan
pengiriman tugas belajar dari Indonesia untuk belajar dalam bidang ilmu
administrasi publik.
Pada tanggal 13 Februari 1957, Menteri PPK Sarino
Mangoenpranoto membentuk Panitia Perencanaan Pembentukan Lembaga Administrasi
Negara dan melantiknya pada 27 Februari 1957 dengan diketuai oleh Kosim
Adisaputra (Kementerian Dalam Negeri). Dan pada 8 Juni 1957, panitia yang
diketuai oleh Kosim Adisaputra ini telah menyelesaikan hasil pekerjaanya berupa
dua buah rancangan yakni Peraturan Pemerintah perihal Lembaga Administrasi
Negara dan Keputusan Perdana Menteri perihal Susunan dan Bidang Kegiatan
(lapangan pekerjaan) Lembaga Administrasi Negara disertai laporan singkat
mengenai latar belakangnya (semacam naskah akademik). Atas dasar
rancangan-rancangannya itu, pada 6 agustus 1957 dikeluarkanlah Peraturan
Pemerintah Nomor 30 Tahun 1957 tentang Lembaga Administrasi Negara dan
Peraturan tentang Susunan dan Lapangan/Bidang Pekerjaan Lembaga Administrasi
Negara dengan Surat Keputusan Perdana Menteri Nomor 283/PM/1957 bertanggal 27
Agustus 1957. Catatan; tanggal 6 Agustus selanjutnya diputuskan sebagai hari
lahir Lembaga Administrasi Negara yang setiap tahun diperingati seluruh warga
Lembaga Administrasi Negara. Dan pada 5 Mei 1958
dikeluarkan Keputusan Pengangkatan Dr. Mr. Prajudi Atmosudirdjo
sebagai Direktur Pertama Lembaga Administrasi Negara oleh Perdana Menteri H.
Juanda.
Mengenai tugas dari Lembaga Administrasi Negara
(LAN) disebutkan dalam Peraturan Pemerintah yaitu sebagai badan pemerintahan
yang membantu pemerintah dalam melaksanakan usaha penyempurnaan aparatur
pemerintahan serta administrasi publik. Dimana jika dirincikan tugas dari LAN
adalah sebagai berikut :
1) Menyelenggarakan dan
mengawasi Pendidikan dan pelatihan pegawai negeri sipil atau calon PNS,
sehingga menjadi tenaga administrasi public yang mempunyai kepribadian dan
kecakapan sesuai dengan tugasnya.
2) Menyelenggarakan dan
memberi bantuan kepada usaha penelitian dalam lapangan (bidang) administrasi
publik.
3) Bertindak sebagai
badan konsultan bagi badan-badan pemerintahan dalam usahanya memperbaiki dan
menyempurnakan administrasinya.
4) Mengembangkan serta
memajukan ilmu administrasi publik di Indonesia.
Pada akhir 1958 terdapat dua orang ahli administrasi publik yaitu Lynton K. Caldwell dan Howard L. Timms ke Indonesia. Kedua orang ahli ini berhasil Menyusun laporan tentang “Developing the Managerial Resources of Indonesia” pada bulan November 1958 kepada Biro Perancang Negara. Dimana pokok-pokok yang disampaikan oleh kedua orang ahli seperti penilaian kebutuhan-kebutuhan manajemen, perkembangan kebutuhan-kebutuhan manajemen untuk sektor ketataprajaan, perkembangan sumber-sumber manajemen untuk sektor ketataniagaan, rencana untuk mengadakan program dalam mengembangkan manajemen.
Pada awal tahun 1959 diterbitkan untuk pertama kalinya Majalah Administrasi Negara (MAN) oleh Lembaga Administrasi Negara. Redaksinya antara lain Arifin Abdurachman dan Imam Buchari. Tujuan diterbitkannya majalah ini adalah untuk memuat karangan-karangan yang bersifat ilmu pengetahuan praktis, bersifat kejuruan (teknis-ilmiah-praktis), memuat karangan hasil pengalaman dan hasil penyelidikan administrasi dari aspek dinas pemerintahan. Dalam periode ini penyebaran majalah sebagai ilmu dan masalah-masalah administrasi publik dinilai produktif dan efektif.
Selain itu, ditahun ini pula dibentuk dalam
lingkungan Lembaga Administrasi Negara suatu Dewan Redaksi penerbitan buku
ilmiah administrasi publik yang tugasnya untuk menstimulir penerbitan dalam
bidang ilmu administrasi publik.
Di tahun 1960 yang merupakan tahun penutup di
perkembangan administrasi publik periodetahun 1956-1960 ditandai dengan
didirikannya Perguruan Tinggi Dinas Ilmu Administrasi Negara (PTDIAN) oleh
Lembaga Administrasi Negara pada tanggal 24 Desember 1960 (sekarang STIA-LAN)
yang dipimpin oleh Prof. Mr. Dr. Prajudi Atmosoedirdjo.
Tujuan didirikannya PTDIAN-LAN adalah pemsecara
mendalam dan meluasbentukan kader yang berpendidikan universiter di kalangan
pegawai negeri sendiri, pengembangan ilmu administrasi secara mendalam dan
meluas dimulai di kalangan pegawai negeri sebagai alat aparatur pemerintahan,
kemudian dilanjutkan kepada kalangan yang lebih luas.
Di tahun ini juga terbentuk suatu Perhimpunan
Sarjana Ilmu Administrasi Negara (PERSIAN) yang menjadi cikal bakal dari
Perhimpunan Sarjana Administrasi Indonesia (PERSADI). PERSIAN didirikan atas
inisiatif Arifin Abdurachman dan Slamet Wijadji Soekarno. PERSIAN kini beralih
menjadi PERSADI, Perkembangan PERSADI sebagai organisasi profesi tidak
berkembang dengan semestinya. Penyebabnya ada di masa orde baru dimana
organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan termasuk organisasi profesi ilmiah
dikendalikan secara ketat oleh pemerintah dan dibawah pembinaan Kementrian
Dalam Negeri dan Kementerian/Lembaga Pemerintah Non Kementerian terkait bidang
keilmuan. Perkembangan PERSADI yang dinilai semakin tidak menentu membuat para
sarjana administrasi publik yang merupakan generasi muda berinisiatif membentuk
sebuah organisasi yang diberi nama IAPA (Indonesian Association for Public
Administration). IAPA tidak menandingi PERSADI tetapi justru mengingatkan
kepada para senior bahwa eranya sudah berubah. IAPA kepengurusannya berada di
perguruan tinggi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik atau ada juga di
Fakultas Ilmu Administrasi. IAPA berkembang sangat pesat sampai tahun 2017 dan
bahkan sudah go internasional. Adapun PERSADI kini diubah Namanya menjadi
ASPA-Indonesia (Asosiasi Sarjana dan Praktisi Administrasi Indonesia) yang
sekarang dipimpin oleh Dr. Ir. Fadel Muhammad. (Basuki, 2018).
Perkembangan
Administrasi Publik Indonesia Tahun 1960 - 1965
(Disusun oleh Cindy Aulia (1228010045))
Pada 5 Juli 1959 menjadi awal dari berubahnya struktur dan pelaksanaan administrasi publik di Indonesia karena waktu itu Indonesia kembali kepada UUD Negara RI 1945 dengan demokrasi terpimpinnya. Ini membawa pengaruh yang nyata dalam perkembangan ilmu administrasi di Indonesia.
Mengenai pentingnya dan peranan administrasi publik
sebagai alat revolusi dan pembangunan bangsa dapat ditemukan pada pidato
Presiden Soekarno tentang “Penemuan Kembali Revolusi Kita” yang disampaikan
pada tanggal 17 Agustus 1959. Selain itu juga ada pada amanat Presiden Soekarno
pada tanggal 28 Agustus 1959. Selain itu juga masih terdapat
ketentuan-ketentuan mengenai administrasi publik di dalam keputusan MPRS II
mengenai Garis-Garis Besar Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bab II
Pasal 4 dan dalam Bab-bab Bidang Pemerintahan dan Keamanan/Pertahanan serta
Lampiran-lampirannya.
Pada akhir 1963 tumbuhnya pemikiran-pemikiran
tentang mengembangkan ekonomi pemerintahan atau Public Economic
Administration. Pemikiran-pemikiran ini secara tertulis
dikemukakan oleh Daud Jusuf dalam rangka membuka jurusan baru di Fakultas
Ekonomi UI yaitu jurusan ekonomi pemerintahan.
Periode ini ditandai dengan “zelfstanding”
dalam perkembangan ilmu administrasi publik di Indonesia. Di periode ini
tim/penasihat luar negeri terhadap perkembangan ilmu administrasi publik di
Indonesia berkurang karena memang tugas dari tim/penasihat luar negeri ini
sudah selesai dalam menunaikan tugasnya. Contohnya, Indiana Contracting
Team (ICT) pada LAN selesai menunaikan tugasnya pada tahun 1963.
Sebenarnya dalam perkembangannya di bidang ilmu
administrasi, Indonesia sudah lebih berdiri di atas kaki sendiri. Dan dalam
periode ini pula, hasil dari pendidikan di bidang administrasi publik oleh
berbagai lembaga pendidikan menuai hasil yang nyata, contohnya pendidikan ilmu
administrasi publik dari Fakultas Sosial dan Politik Universitas 17 Agustus, PT
DIAN-LAN Jakarta (STIALAN Jakarta), dll.
Pada tahun 1964 PERSIAN menyelenggarakan seminar
tentang Administrasi Dekon. Di periode ini dilakukan suatu penelitian namun
hasilnya belum cukup puas. Penelitian penting yang dikemukakan oleh LAN adalah
tentang Organisasi Kerja serta Prosedur Kerja Kementerian-kementerian, Tugas
Kewajiban Setiap Unit Kerja dan Hubungan Tiap Unit Kerja Ditinjau dari segi
formal dan informal organisasi. Bentuk konkrit dari hasil peneliitian ini
adalah disusunnya “Almanak Organisasi Negara RI” tahun 1960.
Pada periode ini ada beberapa rencana penelitian
lain dan perlu dikemukakan yaitu mengenai Research untuk Evaluasi Latihan
Jabatan, Research untuk Almanak Organisasi Negara
Tahunan, Research Organisasi Tata Kerja, Research Klasifikasi
Karya-karya Ilmiah, Research Administrasi Pemerintahan
Daerah, Research Komunikasi dan Pengambilan Keputusan.
Pada periode ini juga LAN menyusun Bunga Rampai
Administrasi dengan dibentuknya tim kerja sesuai dengan aspek-aspek
administrasi negara, yaitu sebagai berikut :
1) Struktur Administrasi Publik;
2) Administrasi Pemerintahan Daerah;
3) Administrasi Kepegawaian;
4) Administrasi Keuangan;
5) Administrasi Perencanaan Negara;
6) Administrasi Hubungan Luar negeri;
7) Badan Dinas Pembantu;
8) Perusahaan Negara;
9) Badan-badan Regulator;
10) Kegiatan-kegiatan Efisiensi dan Pengawasan;
11) Pelaksanaan Hukum dan Pengadilan.
Perkembangan Administrasi Publik Indonesia Tahun 1966 – 1998
(Disusun oleh Ahmad Irfan Nugraha (1228010013))
Perkembangan administrasi publik di tahun 1966 sampai dengan tahun
1997 dibuat secara keseluruhan, mengingat pemerintahan Republik Indonesia
diperintah oleh satu orde baru selama kurang lebih 30 tahun lamanya.
Untuk kurang lebih 30 tahun dari kepemimpinan Presiden Soeharto. Dari
penelusuran berbagai bahan dan kajian, terlihat jelas bahwa era Orde Baru
dimulai dengan perubahan total dari kebijakan awal, ketika para pemimpin
tertinggi era Orde Lama menguatkan politiknya sebagai panglima,yang kemudian di
orde baru mengalihkan fokusnya ke pembangunan ekonomi.
Meskipun konsepnya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan era orde lama
yaitu adanya model pembangunan universal terencana dengan tujuan “membangun
bangsa dan karakter”, sedangkan pada era orde baru ditransformasikan menjadi
garis besar haluan negara. Kebijakan yang mencanangkan "pembangunan
manusia Indonesia seutuhnya" dan menuntut slogan-slogan pembangunan
lainnya. Namun jika dilihat lebih dekat, fokus pembangunan lebih pada pembangunan
ekonomi. Pemerintah dan tim ekonom terkemuka yang ada Indonesia telah mengubah
perekonomian yang semula relatif tertutup menjadi perekonomian yang lebih
terbuka. Ekonom adalah Prof. Wijoyo Nitisastro, Prof. M. Valitettavasti Prof.
Dr. Subrot, Prof. Dr. Ali Wardana, Prof. Dr. Emil Salim, Prof. Dr. JB.
Sumarlin, Prof. Dr. Saleh Afif dan Prof. Bintoro Tjokroamidjoyo, M.A. dan
lainnya adalah para arsitek Orde Baru yang sangat mempengaruhi kebijakan dan
arah perjalanan bangsa Indonesia.
Di era Orde Baru yang lebih menekankan pembangunan ekonomi, manajemen
pembangunan juga diperkenalkan di Indonesia. Dua bab yang akan disajikan adalah
Prof. Bintoro Tjokroamojoyo, MA dengan karya monumentalnya “Pengantar
Administrasi Pembangunan”, Prof. Dr. Sondang Paian Siagian, M.PA dengan
karyanya “Administrasi Pembangunan” dan dari UGM yaitu Prof. Dr. Moelyarto
Tjokrominoto, M.P.A, yang juga seorang sangat produktif penulis buku dan esai
tentang Manajemen Pembangunan Pada masa itu ilmu manajemen pembangunan
dikembangkan dan dipelajari lebih lanjut baik di perguruan tinggi maupun
instansi pemerintah. Tujuannya untuk mendukung kebijakan pemerintah Orde Baru
yang mencanangkan pembangunan Indonesia. (Johanes, 2018).
Pengaruh
penyelenggaraan negara disebut tugas administrasi umum (general
administrative task, misalnya pelayanan, dll) dan tugas pembangunan.
Fokusnya adalah pada proyek-proyek pembangunan, baik pembangunan fisik
maupun non fisik. Ayam jantan yang dibuka oleh kepemimpinan orde baru menandai
babak baru bagi Indonesia, yang semula dimulai pada era orde lama dengan
semboyan BERDIKARI, artinya “berdiri di atas kaki” atau merdeka. Kebijakan Bung
Karno waktu itu bahwa mencari kekayaan Indonesia adalah tanggung jawab anak
bangsa Indonesia dan bukan pihak asing. Sayang sekali para pemimpin orde
berikutnya tidak berpegang teguh pada prinsip. Orde baru bahkan mengizinkan
pihak asing untuk mengeksplorasi sumber daya alam Indonesia, termasuk minyak,
gas alam, dan bahkan hutan. Kebijakan ini dirancang untuk menarik investor dan
mengurangi utang luar negeri. Beberapa contoh perusahaan asing yang telah
berinvestasi di bidang pengeboran minyak dan juga pertambangan emas selama
lebih dari 30 tahun adalah PT Caltex, Freport dan sebagainya bahkan ada yang
memiliki kontrak lebih dari 50 tahun.
Kondisi ekonomi pasca Orde Lama memang melemah dan Indonesia termasuk
dalam kelompok negara miskin bahkan di bawah batas kemiskinan absolut.
Berdasarkan pengamatan para penulis pada masa Orde Baru, sistem ketatanegaraan
negara yang sentralistik memang luar biasa. Politik terpusat dan negara bagian
adalah ciri khas era ini. Meskipun Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia (1945) mengatur adanya pemerintahan daerah, namun kebijakan satu
pintu diikuti dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Di satu sisi, sistem
ini baik bila diterapkan pada masa transisi dari era Orde Lama yang penuh
dengan gejolak politik dan keamanan, namun bila dirasa aman, harus dikembalikan
ke jalur semula.
Kebijakan sentralisasi juga secara langsung memengaruhi Sistem
Administrasi Negara yang diterapkan. Kementerian-kementerian (yang Waktu itu
memakai nomen kaltur departemen) dan lembaga-lembaga penyelenggara pemerintahan
lainnya menjadi pusat-pusat kekuasaan kelembagaan kementerian (departemen)
sangat tambun karena dari kebijakan sampai dengan implementasinya dikuasai
sepenuhnya pemerintah pusar. Pemerintah daerah menjadi sangat tergantung kepada
pemerintah pusat dalam berbagai segi utamanya anggaran dan sumber daya manusia
dikuasai pemerintah pusat.
Dari segi kelembagaan, terdapat dua jenis kementerian (departemen) pada
masa Orde Baru, yaitu jenis terpadu dan jenis holding. Tipe terpadu adalah tipe
kementerian yang hanya memiliki satu kantor wilayah, misalnya Kementerian
Sosial, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jenis holding adalah kementerian
yang unit departemen utamanya memiliki kantor wilayah, misalnya Kementerian
Keuangan (Kantor Anggaran, Kantor Bea dan Cukai), Kementerian Perhubungan
(Otoritas Angkutan Udara, Kantor Perhubungan Darat Daerah). Di sisi lain,
lembaga daerah termasuk departemen kesehatan, departemen pendidikan, dinas
sosial, dll.
Karena yang berkuasa duduk di kantor pusat, kegiatan daerah lebih
berorientasi pada kegiatan kantor pusat. Dalam keadaan seperti ini, pemerintah
provinsi, kabupaten, dan desa semuanya berada pada tingkat komando yang sama
dengan organisasi militer. Artinya, jika kebijakan negara adalah A, maka daerah
dan desa juga harus mengikutinya. Kreativitas dan inovasi daerah tetap terikat
pada tatanan itu. Beberapa dampak dari sistem sentralisasi tersebut di atas menyebabkan
pola pikir dan kesatuan budaya aparatur pemerintah yang bercirikan menunggu
perintah dan budaya kerja yang buruk. Mesin pemerintahan, dalam hal ini pejabat
yang walaupun dikemas dalam KORPRI (Korps Pegawai Negeri) dengan motto “abdi
negara”, sebenarnya menjadi “abdi penguasa negara dan bukan abdi rakyat”.
Pelayanan publik yang seharusnya memberikan pelayanan kepada masyarakat
umum beralih menjadi pelayanan penguasa atau pegawai negeri. Namun itu adalah
kenyataan yang telah dialami selama lebih dari 30 tahun. Pola dan pola
pemikiran kultural atau konvensional yang sudah berlangsung lama telah
membentuk sikap dan perilaku aparatur pemerintah yang lebih memilih melayani
daripada dilayani. Baik otoritas struktural pusat maupun daerah menjadi tempat
yang sangat menarik bagi mesin pemerintahan karena menjadikan mereka seperti
raja-raja kecil. Harta milik pejabat konstruksi merupakan aset utama pejabat
untuk penyalahgunaan kekuasaan.
Sistem sentralisasi juga dibarengi dengan lemahnya kontrol legislatif,
yang merupakan konsekuensi logis dari kemenangan mayoritas partai penguasa.
Tiga kekuatan politik, yakni Partai Golongan Karya (didukung penuh oleh
ABRI/POLRI dan pejabat), pejabat pemerintah daerah yang ditunjuk pemerintah
pusat, menjadikan partai GOLKAR sebagai pemenang mayoritas. Dua kekuatan
politik yakni Partai Demokrat dan Partai Persatuan Pembangunan yang baru
terbentuk melalui penggabungan beberapa partai politik tidak hanya masih labil,
tetapi masih banyak konflik internal yang sulit diselesaikan. Pemerintah dalam
hal ini GOLKAR menggunakan kesempatan ini untuk menghimpun kekuatan lebih.
Keunggulan GOLKAR antara lain staf profesional yang handal.
Dari sudut pandang administrasi publik, pada masa pemerintahan Orde Baru
dapat dikatakan sebagai administrasi negara dengan model otoriter. Dimana model
kebijakan ini sebagai master of development kits. Manajemen
pembangunan terapan merupakan manajemen otoriter yang sangat sentralistik dan
meliputi seluruh negara. Kota bahkan pejabat di daerah hanya menjadi sasaran
pembangunan dan tidak diberi peran penting. Dapat dikatakan bahwa
prinsip-prinsip administrasi publik yang mencerminkan demokrasi telah bergeser
ke paradigma lama, yaitu “kingdom-like”, dimana penguasa tidak
terpengaruh oleh hukum bahkan kebal terhadapnya. Pemberantasan korupsi hanya
omongan untuk menyembunyikan mega korupsi.
Kondisi lain yang sangat memprihatinkan, yang dampaknya masih terasa
hingga saat ini, adalah rendahnya daya saing sumber daya manusia Indonesia.
Pembangunan seluruh bangsa Indonesia yang sejak awal dicanangkan pemerintah
Orde Baru hanyalah semboyan kosong. Dibandingkan dengan negara tetangga
Singapura dan Malaysia yang sejak awal terus membangun sumber daya manusia,
kini kemajuan juga terlihat jauh dari Indonesia. Malaysia yang sebelumnya
meminta bantuan diutus guru sekolah dasar. Fakultas sekolah menengah dan
perguruan tinggi sekarang sebaliknya. Dari segi kecerdasan dapat dikatakan
bahwa bangsa Indonesia sangat baik dan tidak lebih buruk dari bangsa lain.
Namun sangat disayangkan pengelolaan sumber daya manusia di Indonesia masih
kurang dan tidak serius. Misalnya pada aparatur pemerintah (PNS), PNS baru
memiliki NIP pada tahun 1970-an, dan dari segi pendidikan mulai lebih baik pada
tahun 1975 yang ditandai dengan dibukanya Sekolah Tenaga Administrasi dan Tata
Usaha (SESPA), diambil oleh Sekolah Staf Administrasi Pakistan, Filipina dan
Australia, diselenggarakan oleh Institut Administrasi Publik dan ditujukan
untuk mempersiapkan kandidat untuk posisi pegawai negeri Tingkat II. Diklat
SESPA juga menggunakan SESKO ABRI yang sebelumnya mereka selenggarakan untuk
mempersiapkan calon panglima (pemimpin tertinggi) di lingkungan TNI.
Perkembangan Administrasi Publik Indonesia
Tahun 1998 - Sekarang
(Disusun oleh Ahmad Irfan Nugraha (1228010013))
Perkembangan ilmu administrasi yang dibimbing secara ilmiah oleh
generasi muda di Forum Ikatan Administrasi Negara (IAPA) dan di wilayah empiris
dan terapan di bawah arahan Lembaga Ilmu Administrasi Negara dan Lembaga
Penelitian dapat dirasakan dengan sangat cepat. kemajuan Bahkan bisa dikatakan
hingga awal tahun 2018 perkembangannya tidak kalah dengan perkembangan ekonomi
dan ilmu sosial lainnya.
Namun Perjalanan Administrasi Publik sampai saat ini harus berliku-liku.
Sejarah perubahan dalam administrasi publik terus berulang. Upaya untuk
mendefinisikan ilmu pemerintahan sebagai ilmu pemerintahan tidak berlangsung
lama. Dinamika lingkungan ketatanegaraan yang sangat tinggi menimbulkan banyak
pertanyaan tentang pentingnya keberadaan ilmu administrasi negara sebagai ilmu
administrasi negara. Gugatan tersebut terutama ditujukan kepada pejabat tata
usaha negara yang dinilai tidak memadai. Menurut Dwiyanto (2007), lembaga
negara dianggap terlalu sempit untuk dijadikan tempat penyelenggaraan negara.
Fakta terkini menunjukkan bahwa peran yang secara tradisional menjadi
kewenangan dewasa ini, semakin mudah dijumpai lembaga swadaya masyarakat yang
menjalankan berbagai tugas dan tugas yang sebelumnya merupakan monopoli negara.
Di sisi lain, organisasi birokrasi tidak hanya menghasilkan barang dan
jasa publik, tetapi juga barang dan jasa swasta. Hal ini
juga membuat standar yang sama bahwa negara saat ini menghadapi
banyak pesaing baru yang siap melaksanakan tidak hanya pelayanan publik, tetapi
juga tugas negara, khususnya pelayanan publik, di bidang pembangunan ekonomi
dan sosial.
Negara juga harus menegosiasikan kepentingannya dengan aktor lain,
yaitu. bisnis dan masyarakat sipil. Secara spesifik, Thoha (2007) bahkan
menyatakan telah terjadi pergeseran paradigma dari orientasi administrasi
publik menjadi orientasi pasar. Selain itu, dikemukakan pula bahwa pasar di
sini dapat diartikan secara politis sebagai orang atau masyarakat (publik).
Fenomena semakin berkurangnya peran negara ini bertolak belakang dengan apa
yang Grindle (1997:4) sebagai "terlalu banyak negara" di mana negara
melakukan intervensi berlebihan pada pertengahan 1980-an, menyebabkan
perbudakan utang luar negeri, krisis keuangan, dan pemerintahan yang terlalu
terpusat dan otoriter.
Berbagai fenomena tersebut menimbulkan ketidakpuasan di kalangan
mahasiswa dan akademisi ketatanegaraan. Apakah masih relevan untuk menjadikan
pemerintahan sebagai tempat kajian dalam administrasi negara?Penjelasan di atas
menunjukkan bahwa istilah “negara” dalam administrasi publik terlalu sempit,
mencerminkan dinamika administrasi publik yang semakin kompleks dan dinamis di
awal abad ke-21. yang menjadi kurang relevan Utomo (2007) berpendapat bahwa
seiring berkembangnya konsep penyelenggaraan negara, titik-titik tekanan
semakin menjauh dari negara yang semula diposisikan sebagai satu-satunya
entitas yang memiliki kekuasaan untuk melaksanakan berbagai kebijakan
semata-mata untuk kepentingan warganya. Oleh karena itu, administrasi tidak
lagi diterjemahkan sebagai administrasi negara, tetapi sebagai administrasi.
Pasalnya, kata "publik" di sini memiliki arti yang jauh lebih luas
daripada kata "negara". Di sini, publik menunjukkan bahwa organisasi
non-pemerintah, baik bisnis maupun masyarakat sipil, terlibat dalam tata
kelola.
Akibat perubahan pengertian public administration sebagai
administrasi publik, maka fokus ilmu administrasi berubah dari yang tadinya
birokrasi negara menjadi fokus pada organisasi publik yaitu birokrasi negara
dan juga lembaga swadaya masyarakat. terlibat dalam pelaksanaan tugas negara,
dan dalam pelaksanaan pelayanan publik, dan dalam pembangunan ekonomi, sosial
dan bidang pembangunan lainnya.
Dengan perubahan arti “publik” yang disebutkan secara singkat di atas,
ilmu administrasi publik menemukan tempatnya dengan lebih jelas. Pada
prinsipnya, semua kegiatan yang berlangsung di birokrasi negara dan di lembaga
swadaya masyarakat yang menjalankan tugas negara menjadi fokus penelitian
administrasi. Ketika tempat administrasi publik menjadi jelas, pertanyaan
selanjutnya adalah apa yang harus menjadi perhatian para peneliti manajemen.
Kekhawatiran ini kemudian dijawab oleh studi kebijakan publik sebagai perhatian
utama para peneliti administrasi publik. Hal ini merupakan konsekuensi yang sangat
logis karena ketertiban umum merupakan hasil terpenting dari pemerintahan
(Dwiyanto, 2007). Bagi pemerintah, politik merupakan alat terpenting yang dapat
mempengaruhi perilaku masyarakat untuk menyelesaikan berbagai masalah publik (public
affair). Upaya tersebut dapat dicapai melalui penggunaan kebijakan
redistributif, kebijakan regulasi protektif, kebijakan regulasi kompetitif dan
kebijakan redistributif (Ripley, 1986:60).
SUMBER
1) Pasolong, Harbani. (2019). Teori
Administrasi Publik. Bandung: Alfabeta. (Hal: 25-29).
2) Basuki, Johanes. (2018). ADMINISTRASI
PUBLIK Telaah Teoretis dan Empiris. Jakarta: Rajawali Pers. (Hal: 32-76)
3) Syafiie, Inu Kencana. (2010). ILMU
ADMINISTRASI PUBLIK. Jakarta: PT RINEKA CIPTA. (Hal: 136-144)
4)
Suardita, I Ketut. (2016). “ILMU
ADMINISTRASI”.
https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_pendidikan_1_dir/a326bf17bfccb75b1c4934a95e0c5b87
5) HIMPUNAN MAHASISWA ILMU ADMINISTRASI
FISIP UNHAS. “Sejarah perkembangan ilmu administrasi”.
http://www.humanisfisipunhas.or.id/2011/10/sejarah-perkembangan-ilmu-administrasi.html?m=1
6) Bambang Prijono, M.Pd. "Makalah
Perkembangan Administrasi Negara di INdonesia
https://www.academia.edu/9891734/Makalah_Perkembangan_Administrasi_Negara_di_Indonesia
Comments
Post a Comment